0
Sebuah note oleh seorang Teman....
FontStruct Handmade Competition
Handmade?
The square-grid and simple geometric shapes of the FontStruct brick-shapes are ideal for producing clean, systematic, logical designs. This competition is about getting your hands dirty, resisting the urge to be systematic, and trying to create something with a more human, perhaps imperfect, character.
Competition brief
All you have to do is make a FontStruction AND an accompanying sample image related to the theme “Handmade”.
Of course FontStruct is a digital tool and you can’t actually pick up the brick shapes and work them with your hands (I wish you could) so this challenge is about “Mousemade” FontStructions that somehow look “Handmade”.
For example you could create something that looks cutout, hand-drawn, sketched, scratched or scribbled. This FontList and this one from FontShop might provide some inspiration. Or maybe you can think of some other way to interpret the theme. As long as it’s relevant, feel free, and go for it.
The “handmadeness” could also just be in your sample image. If you knit, carve, fry, sculpt, paint or otherwise manipulate your FontStruction and take a photo of the result, you might be able to turn the most robotic of pixel fonts into something you can call “handmade”.
Prizes
First prize is a copy of the coveted FontBook by FontShop International.
The FontBook is the most complete digital type reference in the world. Since 1991, “the big yellow book” has been the trusted friend of designers, typographers, advertisers, manufacturers, publishers, historians, and anyone else who uses type.
Two runners-up will win t-shirts from the FontStruct Shop.
In addition, all winners will have their winning FontStructions posted as Featured FontStructions for two weeks starting October 18th.
Competition time period
September 17th – October 8th 2010
Eligibility
You must be a registered FontStruct user.
Competition rules
1. Your submission(s) must be posted and made “public” between September 17th – October 8th 2010. Although you are encouraged to share your submission(s) at any time between these dates, your FontStruction submission(s) must be public (marked “share with everyone”) no later then October 8th at 11pm PST. Additionally, your submission(s) must remain public until October 15th in order to give the judges enough time to review all qualifying entries.
2. Your submission(s) must be tagged with a “HandmadeComp” tag. (For fairness, during the competition time period, September 17th – October 8th, no FontStruction with the “HandmadeComp” tag will be awarded a Top Pick or be available for a Featured FontStruction pick.)
3. Your submission(s) must be downloadable. If your FontStruction breaks the FontMortar, the submission will be disqualified.
4. Your submission must be a newly published FontStruction. Simply adding the “HandmadeComp” tag to an already published font is strictly prohibited.
5. For each submission, you must post at least one sample image in the comments of the FontStruction.
6. All letters in each submission must be LESS THAN 33 bricks high.
7. FontStruct cloning is permitted but the judges will be looking for original work.
8. You may enter up to three FontStructions to the competition.
9. This is a friendly competition. Cheering, favoriting and fun banter is encouraged but cruel and uncivil behavior will not be tolerated.
10. No rules regarding licensing. You may choose any Creative Commons license you like for your FontStruction.
Judging
All qualifying FontStructions will by judged by the FontStruct staff between the October 9th to October 15th. Three prizewinners (One winner and two runners-ups) will be chosen. One of these will be the FontStructors’ Favorite.
Winner announcement
Winners will be announced in a FontStruct Blog post on October 18th.
Sumber: dgi-indonesia.com
Inspirational Story....(2)
Pengalaman Pramugari China Airline
Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.
Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang, kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
[break]
Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa hausdan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupunkebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.
Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.
Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliahditingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orangtua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali kedesa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.
Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.
Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.
Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
Mudah2an kisah nyata ini bisa menjadi renungan & motivasi bagi kita semua untuk mendapatkan inspirasi seperti pramugari ini. Semoga Bermanfaat..
Cara Melihat Hantu
1.ambil secarik kain kafan,
2.batok kelapa. Bila sudah lengkap pada malam jumat keliwon tepat jam 12 malam kamu harus datang ke kuburan lalu kamu duduk bersila di gerbang kuburan kemudian potongan kain kafan dibakar di dalam batok kelapa lalu di ludahi
3. kali kemudian di aduk kemudian hasil cairan di olesi pada sekeliling mata kamu, kamu pejam kan mata mu kurang lebih 5 menit stlh itu kmu bk mata kamu, maka kamu akan melihat hantu sesuai dengan keadaan fisik nya saat mati.
Perhatian: sebaiknya cara ini jangan kamu coba karena hantu2 yg telah u pangil akan selalu menghantui u. aku sendiri belom pernah nyoba ini lho,,,,,,hehehehe, met mencoba,,, ehhhh,,,jangan lupa klo berhasil,komen disini ya...,hehehe









